Rab. Jun 29th, 2022

Tariunews.com

Aktual, Independen, dan Terpercaya

Menuju Kalimantan Barat Bebas Filariasis

TARIUnews.com – Filariasis atau kaki gajah merupakan penyakit yang sering ditetapkan sebagai  kasus luar biasa (KLB) di sebagian daerah di Kalimantan Barat. Hal ini sudah tidak mengherankan lagi karena terdapat 4 kabupaten di Kalimantan Barat yaitu kabupaten Sintang, Sambas, Pontianak dan Ketapang merupakan daerah yang endemis penyakit filariasis.

Penyakit Kaki Gajah diakibatkan oleh Brugia malayi yang merupakan salah satu cacing filaria dan dibawa oleh nyamuk kemudian ditularkan ke manusia lewat gigitannya. Nyamuk dapat terinfeksi oleh larva cacing karena menghisap darah dari pasien penderita filariasis. Proses infeksi cacing filaria kedalam tubuh manusia yaitu dengan transfer larva cacing pada saat nyamuk menghisap darah pada manusia dan memungkinkan larva nyamuk dapat masuk kedalam saluran peredaran darah manusia. Proses pertumbuhan larva cacing hingga menjadi cacing dewasa pada tubuh manusia membutuhkan waktu 3 hingga 36 bulan. Sehingga penyakit ini bersifat kronis karena tidak menimbulkan gejala pada tahap awal dan hal tersebut membuat pasien pada awalnya tidak menyadari didalam tubuhnya terdapat pertumbuhan cacing filaria penyebab penyakit filariasis atau kaki gajah dan penyakit ini berlangsung lama hingga menahun.

Siklus Hidup Nyamuk Anopheles

Larva cacing umumnya ditularkan oleh nyamuk pada genus Anopheles, Aedes dan Culex dan nyamuk Mansonia yang merupakan vektor utama penyebab filariasis. Nyamuk aedes merupakan nyamuk yang aktif menggigit pada pagi hari setelah matahari terbit (8.00-10.00) dan sebelum matahari terbenam (15.00-17.00). (Djakaria, 2000)  sedangkan nyamuk Mansonia, anopheles dan culex aktif menggigit pada malam hari.

Resting place nyamuk-nyamuk yang menjadi vektor penyakit filariasis menyukai tempat-temat yang gelap dan juga lembab yang sering ditemukan didala rumah seperti disudut-sudut rumah, pada tumpukan baju kotor, baju yang digantung, toilet, dan lain sebagainya

Berdasarkan tempat bertelur menurut Canyon tahun 2000, habitat nyamuk dapat dibagi menjadi container habitats dan ground water habitats (genangan air tanah). Container habitat terdiri dari wadah alami dan wadah artifisial. Genangan air tanah adalah genangan air yang terdapat tanah di dasarnya. Spesies yang memiliki habitat genangan air tanah adalah Anopheles sp, Culex sp. Wadah alami banyak terdapat di area hutan atau area perkebunan. Namun wadah alami juga banyak terdapat di tempat lain, misalnya area bekas penebangan pohon, ruas- ruas bambu, area pantai dimana terdapat banyak tempurung kelapa.

Spesies yang memiliki habitat wadah alami adalah Aedes sp, Anopheles sp, Culex sp dan Mansonia sp. Wadah artifisial adalah wadah terindikasi adanya aktifitas manusia atau modifikasi manusia. Habitat ini kebanyakan berada di area pemukiman. Contoh wadah artifisial yaitu, barang-barang bekas, penampung air kulkas/dispenser, tempat penampungan air.

Spesies yang memiliki habitat wadah artifisial adalah Aedes sp, Culex sp. Penyakit filariasis dapat menyebabkan pembengkakan pada beberapa bagian tubuh seperti kaki, tangan, bahkan pada alat kelamin sehingga dapat membuat pasien kehilangan kemampuan seksual. Pembengkakan tersebut disertai dengan nyeri dan juga berdampak pada sifat sosial penderita hingga berakibat kematian pada pasien. Kasus filariasis yang sering terjadi pada beberapa kabupaten endemis filariasis seperti sintang terjadi setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 2017 ada 7 orang meninggal akibat penyakit filariasis. Kasus filariasis juga terjadi di Kabupaten Ketapang dengan sejumlah 33 desa yang mengalami kasus filariasis

Oleh: Meilani Apra

Mahasiswi  Fakultas Bioteknologi, Universitas Kristen Duta Wacana

Editor: Ronald

previous arrow
next arrow
Slider

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: