Jum. Agu 19th, 2022

Tariunews.com

Aktual, Independen, dan Terpercaya

Mantri Patra, Pahlawan Medis yang gugur di Pedalaman Wondama

TARIUnews.com, MANOKWARI– Tidak semua orang mampu melaksanakan tugas di pedalaman yang terisolir, jauh dari keramaian kota dan kemajuan teknologi. Namun panggilan hati seorang anak muda membuat dia sanggup setia dalam tugas saat rekan kerjanya pulang tak kembali. Dalam kesendirian dia tetap melayani hingga akhirnya ajal menjemput.

Mantri Patra, demikian ia biasa disapa oleh masyrakat Wondama. Patra Kevin Marinna Jauhari adalah seorang petugas medis dari Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat yang bertugas di Kampung Oya, Distrik Naikere.

Oya merupakan kampung pedalaman yang masih terpencil dan terisolir. Tidak ada akses jalan darat apalagi sarana telekomunikasi. Wilayah di perbatasan Teluk Wondama dengan kabupaten Kaimana ini hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau menggunakan helikopter. Untuk mencapai pusat distrik di Naikere, warga setempat biasanya berjalan kaki selamai 3 – 4 hari.

Awal April 2019 lalu, Mantri Patra bersama seorang rekannya diantar dengan helikopter ke Kampung Oya. Mereka dijadwalkan bertugas selama tiga bulan hingga juni untuk kemudian dijemput kembali diganti petugas berikutnya. Namun sampai pertengahJuni helikopter belum datang menjemput. Padahal persediaan makanan termasuk obat-obatan telah lama habis terpakai.

Baca juga: Merasa Diberhentikan Kerja Secara Sepihak, Warga Nilas Pagar Lahan

Meskipun begitu, Patra yang tinggal seorang diri setelah temannya sesama perawat memutuskan turun ke kota Wasior dengan berjalan kaki memutukan tetap bertahan di pedalaman. Dia terus memberikan pelayanan medis dengan kondisi apa adanya.

Bertahan dalam kondisi serba terbatas membuat dia jatuh sakit. Ketiadaan alat komunikasi memaksa pria kelahiran Palopo Sulawesi Selatan ini tidak bisa meminta petolongan ke orang-orang di kota. Hari berganti, kondisi fisiknya kian lemah.

Mengetahui kondisinya kian memburuk, salah seorang warga Kampung Oya memutuskan berjalan kaki untuk memberitahukan kondisi sang Mantri kepada Kepala Puskesmas Naikere.

Namun tetap saja tidak ada helikopter yang datang untuk mengevakuasinya kekota guna mendapatkan perawatan medis. Hingga akhirnya pada 18 Juni 2019, Mantri Patra menghembuskan nafas terakhirnya dalam kesendirian. JenazaPatra baru dievakuasi pada 22 Juni 2019 menggunakan helikopter yang disewa Pemda dari Nabire atau empat hari setelah dia meninggal dunia.

Patra adalah Pahlawan bagi masyarakat di pedalaman Mairasi nama suku di pedalaman Naikere). Selamat jalan Mantri Patra!

Baca juga: Solar Tumpah di Pertigaan Keraton Desa Raja, Polres Landak Kerahkan AWC

Sumber: kabartimur com

Editor: Ronald

previous arrow
next arrow
Slider

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: