Sab. Nov 27th, 2021

Tariunews.com

Aktual, Independen, dan Terpercaya

Mengapa Pdt. Bigman Sirait Dikremasi?

Tiga Abu Kremasi Pdt. Bigman Sirait

       Pdt. Bigman Sirait tutup usia pada hari Sabtu 29 Juni 2019, pada pukul 20.44 WIB di RS. Mitra Keluarga Kelapa Gading, dalam usia 57 tahun. Sang Kuasa telah membawa pulang ke pangkuan-Nya. Rasa duka dan derai air mata tak terbendung  lagi karena sosok yang sangat dicintai, seorang yang menjadi panutan dalam kehidupan, pengajaran dan keteguhan iman dalam ber-Tuhan, telah pergi untuk selamanya.

Dalam sehatnya beliau begitu bergairah untuk Tuhannya, dalam sakitnya beliau pantang menyerah, bahkan di akhir hidupnya pun ditutupnya dengan elegan dan penuh kesan. 

     Tak disangka di balik duka dalam kepergiannya  menyisakan pertanyaan besar, mengapa Pdt. Bigman Sirait memilih untuk dikremasi?  Apakah orang Kristen boleh dikremasi?  Lalu mengapa abunya dibagi dalam tiga guci?

      Karena pertanyaan ini berkenaan langsung dengan Alm. Pdt. Bigman Sirait, maka di atas segala pandangan  pro dan kontra, kami menganggap penting  untuk memberikan jawaban dan penjelasan, agar tidak terjadi kesimpang-siuran dan kesalahpahaman,  sehingga orang tidak lagi menduga-duga dalam memberikan kesimpulan atau juga memberi penjelasan yang salah atas pertanyaan pertanyaan yang beredar.

PERTAMA

      Saya meyakini bahwa Pdt. Bigman Sirait memilih untuk dikremasi bukan karena beliau ingin mengajarkan kepada umat, bahwa cara yang benar untuk memperlakukan jasad manusia  adalah dengan cara kremasi. Tentu tidaklah demikian! 

     Dalam pelayanan Gereja yang beliau gembalakan, Pdt. Bigman tidak pernah menekankan  tata cara tertentu atau memberikan ajaran tertentu dalam liturgi kematian yang kami jalankan. Baginya, kalau ada yang memilih untuk dikubur tidak masalah, dan kalau ada yang memilih dikremasipun tidak ada salahnya. 

      Kremasi dipilih Pdt. Bigman karena dianggap lebih mungkin untuk membagi abunya di tiga titik strategis pelayanannya, yaitu Kalimantan Barat, Papua dan Jakarta. Sebab secara etika atau budaya, tentu saja tidak benar bila kemudian kita membagi atau memotong-motong jasad manusia yang sudah meninggal untuk dibagi di tiga titik. Jalan yang tepat adalah kremasi. 

     Mengapa dibagi tiga? Hal ini  berangkat dari kerinduan, permintaan serta semangat pelayanan beliau yang memang mempunyai hati untuk Kalimantan Barat sehingga beliau mendirikan Sekolah Kristen Makedonia pada tahun 2002 dan telah menghasilkan ribuan siswa-siswi sampai saat ini.

Demikian juga hal yang sama dirindukannya terjadi juga di Papua. Mengapa ada juga di Jakarta?

Kita tahu bahwa keluarga Pendeta Bigman berdomisili di Jakarta dan beliau memulai pelayanannya dengan membuka Pelayanan Media Antiokhia, Gereja Reformasi Indonesia, Bible Study Ministry, dan berbagai pelayanan lain yang dikerjakan olehnya di Jakarta. 

     Lewat kehidupannya, Pdt. Bigman Sirait telah menunjukkan bahwa  hidupnya tidaklah sebatas milik diri atau milik keluarganya, tetapi juga menjadi milik jemaat, milik rekan-rekan sepelayanannya, milik anak-anak didiknya.

Lewat matinyapun beliau ingin menyatakan sebuah sikap bahwa beliau sangat mengasihi Tuhan dan sangat mengasihi mereka semua.

KEDUA

       Kalau ditanya secara teologis :  boleh atau tidak dikremasi ?

Maka jawabannya tidak ada kemutlakan harus dikubur atau tidak boleh dikremasi, karena sebetulnya tidak ada teks Alkitab yang final, jelas dan tuntas yang menyatakan atau menjelaskan apalagi menjadi suatu ketetapan  boleh atau tidak boleh.

Juga tak ada kemutlakan harus dikubur atau harus dikremasi.

      Rata-rata mereka yang berpendapat boleh dikremasi berpegang pada I Samuel 31:11-13 sebagai dasarnya. Yonatan, anak Saul ketika mati mayatnya dibakar.

Sementara bagi yang berkata tidak boleh mereka berpegang pada Amos 2:1. 

       Tetapi saya membantah dan berkata bahwa mereka harus membaca teks itu secara jelas dan tuntas serta benar, agar tidak memberikan penafsiran yang simpang siur dan tidak bertanggungjawab sehingga mengajarkan sesuatu yang salah kepada jemaat. 

Dalam Amos 2:1, raja Moab memang dikecam Tuhan karena tiga perbuatan jahatnya, tetapi perlu diingat bukan tindakan pembakaran itu yang dikecam. Kalau kita baca keseluruhan ayat itu dapat kita lihat secara terang dan utuh bahwa kecaman itu datang bukan hanya kepada orang Moab saja (yang melakukan pembakaran), tetapi juga kepada orang Yehuda dan Israel  oleh karena perbuatan jahatnya di hadapan Tuhan (Amos 2:1,4,6).

Jadi sebetulnya yang dikecam adalah sikap dan perbuatan jahat itu, bukan tindakan pembakaran jasad. Sebab pertanyaannya adalah, kalau memang tindakan pembakaran itu tidak boleh lalu dikecam Tuhan, lalu mengapa Yosia dalam 2 Raja-raja 23:20 ketika dia telah menyembelih imam dan membakar tulang-tulang manusia, tidak dikecam oleh Tuhan? Di sini kita mengerti permasalahannya, yaitu bukan tindakan pembakaran itu yang dikecam oleh Tuhan, tetapi perbuatan jahat manusia dihadapan Tuhan itulah yang dikecam olehNya.

       Hal lainnya, kalau kita mau jujur penguburan orang mati oleh orang Israelpun dilakukan dengan cara beragam; ada yang menempatkannya di dalam gua, di dalam tanah, atau ditumpuki dengan batu-batu (Kejadian 35:8, 19). Namun ada kalanya bangsa Israel melakukan praktik kremasi pada jasad (1 Samuel 31:12, 13).

       Meski cara itu beragam tetapi yang teramat penting adalah bukan cara itu, tetapi apakah mereka terikat dengan iman Abraham ( percaya kepada Tuhan Yesus) atau tidak.

Legalah bila kita mati di dalam Tuhan dan selama hidup kita sudah hidup benar di hadapanNya, sehingga kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan tetapi justru penantian yang indah untuk bersekutu dengan Tuhan di kekekalan. 

       Dengan demikian jelaslah bahwa persoalannya bukan pada bagaimana proses akhir jasad manusia: apakah dimakamkan atau dikremasi,  namun bagaimana seseorang menjalani hidupmya selama hayat masih dikandung badan. Apakah ia percaya pada Tuhan Yesus Kristus?  Apakah ia hidup benar dan bertanggung jawab? Apakah hidupnya sudah dijalankan sesuai dengan kehendak Tuhan?

      Hal itu jauh lebih penting ketimbang mempersoalkan tentang tata cara memperlakukan jasad yang sudah mati, sebab kalau orang itu percaya Tuhan dan beriman kepada-Nya, maka jiwanya diterima oleh Tuhan dan beroleh hidup yang kekal, apakah ia dikubur atau dikremasikan.

      Entah bagaimanapun cara mati seseorang, saya meyakini bahwa terlalu mudah bagi Tuhan untuk menyatukan tubuh yang sudah mati menjadi utuh kembali; entah karena dikubur, dikremasi, dimakan bintang buas, tenggelam di dalam laut atau karena terbakar dan lain-lain kalau memang itu diskusinya, sebab bukankah Tuhan itu Maha adanya?

Masakan Tuhan bergantung pada keberadaan tubuh manusia, baru Dia bisa membangkitkan orang mati? 

KETIGA

     Pendeta Bigman Sirait memilih dikremasi adalah atas pemintaannya sendiri yang disampaikan secara langsung pada jemaat, dalam kesaksian beliau di hari Minggu, 23 Juni 2019, di Gereja Reformasi Indonesia. 

Namun sebetulnya beliau sudah berkali-kali menyampaikan hal tersebut di hadapan jemaat, baik dalam sisipan khotbahnya bahkan dalam pelayanan Bible Study Ministry yang beliau pimpin. 

     Jadi perlu kami tegaskan bahwa wasiat yang disampaikan ini bukan karena dalam kondisi tidak sadar atau pengaruh kondisi sakit yang dialami sehingga “ngomong ngaco – tidak beraturan”, sebab kami  menjadi saksi bahwa pada waktu beliau berkata demikian, tidak ada yang luka pada rasio berpikir atau dalam sistematika berkata-kata. Artinya, pada kondisi yang masih sehatpun, beliau sudah menyampaikan hal ini berulang-ulang. 

     Sebagai Pendeta, Penatua dan Jemaat Gereja Reformasi Indonesia yang tentunya mendengar langsung mandat yang diwariskan oleh beliau, maka kami menganggap baik mandat tersebut dan tak berlawanan dengan Firman Tuhan.

Kami berusaha menjalankan permintaan beliau ini dengan sebaik-baiknya dan setulus-tulusnya dengan rasa hormat, kasih, dan tanggungjawab kami kepada beliau, yang telah menjadi pendiri, gembala, guru, mentor bahkan panutan dalam kehidupan iman dan pengajaran Firman.

PENUTUP

      Dalam hidupnya, dalam sakitnya bahkan ketika menjelang ajalnya, yang dipikirkan oleh Pdt. Bigman Sirait bukan dirinya, tetapi pelayanan yang Tuhan percayakan kepadanya. Cinta diri sungguh tidak ada padanya.

      Tiga titik penempatan abu adalah simbol semangat pelayanan Pdt. Bigman Sirait, yang meski secara tubuh beliau sudah tiada, tetapi kiranya semangat pelayanan terus menyala dan membara sehingga melahirkan Bigman Bigman baru yang akan terus berkarya bagi Tuhan dan kemuliaanNya. 🙏🏻

Oleh Pdt.Nikodemus Rindin –

Tim Penggembalaan

Gereja Reformasi Indonesia

Editor : Dodi

previous arrow
next arrow
Slider

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: